MAKALAH BIOMEDIK
DASAR
EVOLUSI
POPULASI
KELOMPOK
6
1.
Tuti Yuniatun (25010113120033)
2.
Lisanti (25010113120034)
3.
Berkat Br
Nababan (25010113120035)
4.
Deborah Simamora (25010113120036)
5.
Nur Fitriah (25010113120037)
6.
Permai Jusnita
Sihite (25010113120038)
Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan
Masyarakat
Universitas Diponegoro
2013
Kata Pengantar
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT atas limpahan
rahmat-Nya, sehingga kamidapat menyelesaikan
tugas makalah yang berjudul Evolusi
Populasi tepat pada waktunya. Penulisan makalah
ini merupakan tugas yang diberikan dalam mata kuliah Biomedik Dasar di Universitas
Diponegoro.
Kami merasa masih banyak
kekuranganbaik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan
yang kami miliki. Oleh karena itu,kamimohon
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi penyempurnaan penulisan
makalah ini.
Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, khususnya
kepada dosen
yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Akhir
kata, kami berharap semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat
bagi kami maupun rekan-rekan, sehingga dapat menambah pengetahuan kita bersama.
Semarang, 12 November 2013
Tim Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL…………………………………………………………... i
Kata
Pengantar…………………………………………………………………. ii
Daftar
Isi………………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………...
1
1.1.Latar Belakang…………………………………………………………...… 1
1.2.Rumusan Masalah………………………………………………………….. 1
1.3.Tujuan Penulisan…………………………………………………………… 2
BAB
II PEMBAHASAN……………………………………………………… 3
2.1.
Pengertian Evolusi………………………………………………………… 3
2.2.
Teori-teori Evolusi………………………………………………………… 4
2.3.
Asal-usul Sel……………………………………………………………… 11
2.4.
Evolusi Tumbuhan dan Hewan…………………………………………… 13
2.5.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Evolusi………………………………. 16
2.6.
Petunjuk Evolusi………………………………………………………….. 20
2.7.
Pandangan Baru tentang Evolusi…………………………………………. 22
2.8.
Teori Asal-usul Kehidupan……………………………………………….. 24
BAB
III PENUTUP…………………………………………………………… 30
3.1.
Kesimpulan………………………………………………………………... 30
3.2.
Saran………………………………………………………………………. 30
Daftar
Pustaka………………………………………………………………….. 31
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Berbicara tentang salah satu kajian biologi yang paling
mengundang rasa penasaran para sainstist adalah bidang evolusi. Karena evolusi
merupakan salah satu kajian biologi yang menimbulkan teka-teki yang perlu
diunggap, selain itu ada juga yang menyebutkan evolusi merupakan teori
dan adapula yang menyebutkan evolusi adalah fakta. Hal ini tentu sangat menarik
untuk dikaji. Berbagai alasan oleh para ahli baik yang pro akan terjadinya
evolusi maupun kontra akan terjadinya evolusi telah diungkapkan dalam bukunya
masing-masing.Salah satu ahli yang sangat dikenal sebagai bapak evolusi adalah
Carles Darwin dengan bukunya the origin species. Banyak ahli pula yang
mendukung pendapat Darwin tentunya dengan penemuannya sendiri.
Evolusi terjadi dilevel populasi.Populasi merupakan
sekumpulan individu yang menempati habitat tertentu.Pada individu dalam
populasi yang mengalami evolusi tentu disebabkan oleh beberapa faktor.Faktor
tersebut diantaranya terjadi mutasi gen dalam populasi, sehingga
menyebabkanfrekuensi gen dalam populasi mengalami perubahan. Hal ini sesuai
dengan aturan atau asas dari Hardy Weinberg.
1.2. Rumusan
Masalah
1. Apa itu evolusi ?
2. Apa saja teori-teori evolusi ?
3. Bagaimankah asal-usul sel ?
4. Apasaja macam-macam evolusi tumbuhan dan hewan?
5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi evolusi ?
6. Apa saja petunjuk dari evolusi?
7. Bagaimana pandangan baru tentang evolusi?
8. Bagaimana teori asal-usul kehidupan?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui dan memahami apa itu evolusi.
2. Untuk mengetahui teori-teori evolusi.
3. Untuk mengetahui bagaimana adanya asal-usul sel.
4. Untuk mengetahui apa saja macam-macam evolusi tumbuhan dan hewan.
5. Untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi evolusi.
6. Untuk mengetahui apa saja petunjuk dari evolusi tersebut.
7. Untuk mengetahui pandangan baru tentang evolusi.
8.
Untuk mengetahui teori asal-usul kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Evolusi
Evolusi
(evolverre = membuka gulungan) adalah proses perubahan struktur makhluk hidup
dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks dan berlangsung
dari generasi ke generasi dalam jangka waktu yang sangat lama.
Pada teori evolusi berpendapat bahwa terjadi perubahan pada
makluk hidup menyimpang dari struktur awal dalam jumlah yang banyak beraneka
ragam dan kemudian menyebabkan terjadinya dua kemungkinan. Yang pertama adalah
makhluk hidup yang berubah akan mampu bertahan dan tidak punah atau disebut
juga dengan istilah evolusi progresif. Sedangkan kemungkinan atau opsi yang
kedua adalah mahluk hidup yang berubah atau berevolusi tadi gagal bertahan
hidup dan akhirnya punah atau disebut dengan evolusi regresif.
Berdasarkan ilmu sejarah, evolusi adalah perkembangan
ekonomi, sosial dan politik tanpa adanya paksaan dari waktu ke waktu secara
sedikit demi sedikit dan dalam jangka waktu yang lama.Menurut Ilmu IPA / Ilmu
Pengetahuan Alam, evolusi adalah perkembangan makhluk hidup dari bentuk yang
sederhana ke betuk yang lebih kompleks menuju kesempurnaan secara bertahap dan
memakan waktu yang sangat lama.Contoh dari binatang atau hewan kera menjadi
manusia, ikan menjadi reptil, dan lain sebagainya.
Jenis-Jenis dan Macam-Macam Evolusi di Alam :
1. Evolusi
Kosmik
Evolusi kosmik
adalah evolusi yang terjadi pada lingkungan abiotik atau lingkungan tidak hidup
/ tak hidup.
2. Evolusi
Organik /Organis
Evolusi
organik adalah evolusi yang terjadi pada lingkungan biotik pada mahluk hidup
dari generasi ke generasi.
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti
perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasiorganisme
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan
oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat
yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan
kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu
populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai
sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun
transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang
baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan
variasi antara organisme.Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan
ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.
2.2. Teori
–Teori Evolusi
a.
Teori Evolusi Sebelum Darwin.

Parmenides menyatakan bahwa sesuatu yang terlihat adalah suatu ilusi.
Berbeda dengan apa yang dikemukakan Parmenides, Heraclitus menyatakan bahwa
dalam perjalanan hidupnya makhluk hidup selama mengalami proses yang tetap
Teori ini dikenal dengan teori Fixise. Berasal dari kata ‘Fixed’., artinya
‘unchanging’ atau tetap, tidak berubah. Teori ini muncul satu atau dua abad
sebelum teori Darwin. Pada masa itu tidak pernah dipersoalkan mengenai hubungan
kekerabatan antar satu organisme dengan organisme lain. Semua kegiatan biologis
dianggap tetap seperti apa adanya, tidak ada perubahan. Namun para Naturalis
dan Philosohpy sering berspekulasi bahwa ada terjadi transfomasi spesies.Para
ahli yang mempertanyakan kebenaran teori ‘Fixed’ misalnya: Maupertuis ilmuwan
dari Prancis, kakek Charles Darwin yaitu Erasmus Darwin. Walaupun tidak ada
pemikir-pemikir khusus yang mempersoalkan teori Fixed dengan penjelasan yang
ilmiah bahwa spesies berubah, namun sebenarnya terdapat perhatian dan minat
yang kuat berdasarkan kenyataan bahwa dapat saja satu spesies berubah menjadi
spesies kedua.
Pada 250 tahun sebelum Masehi, Anaximander (Yunani) mengemukakan bahwa
manusia berasal dari makhluk yang menyerupai ikan. Pernyataan Empedocles yang
berbau evolusi namun janggal kedengarannya berbunyi bahwa manusia dan juga
binatang lainnya berasal dari bagian-bagian kepala, badan, dan tangan yang
terpisah-pisah, yang pada makhluk tertentu ketiganya tumbuh menjadi satu, sedangkan
pada makhluk lain hanya kepala dan badan yang tumbuh seperti pada ikan. Artinya
ada yang pertumbuhannya lengkap dan adapula yang tidak lengkap.

Ada beberapa penganut paham lain yang mengelak terhadap adanya pengaturan
atau tuntunan khusus seperti pada vitalisme Para penganut paham lain ini
berpegang pada teori Orthogenesis, Nomogenesis, dan Aristogenesis yang
menganggap bahwa makhluk hidup itu berubah secara evolutif dan penentu
perubahan itu adalah germ plasma. Contoh: perkembangan bentuk dewasa manusia dinyatakan
sudah ada sejak tingkat embrio; Warna, bentuk, letak dan bentuk putik, serta
serbuk sari telah ada pada kuncup bunga. Perubahan pada kuncup menjadi bunga
hanya memerlukan tenaga untuk mekarnya sang bunga. Ketiga teori ini mempunyai
perbedaan yaitu: Orthogenesis menitikberatkan perkembangan makhluk hidup pada
garis lurus artinya terjadi perkembangan yang semakin besar, semakin
bervariasi, namun semuanya bertolak dari yang sudah ada. Nomogenesis menyatakan
bahwa perkembangan hanya berlangsung sesuai dengan aturan tertentu.Untuk setiap
makhluk ada aturan tertentu yang mengikat.Aristogenesis menyatakan bahwa
perkembangan yang terjadi adalah perubahan menuju ke yang lebih baik.
Beberapa tokoh dan
peristiwa yang mendukung dan dipandang dapat melahirkan teori evolusi antara
lain Carolus Linnaeus (Swedia) yang disebut sebagai bapak Sistematik, telah
berhasil memberi nama 4.235 spesies hewan dan 5.250 spesies tumbuhan menyatakan
bahwa makhluk-makhluk hidup tersebut diciptakan dan tetap (konstan), serta
tergolong makhluk pertama yang benar-benar ada. Charles Bonnet (ahli
pengetahuan alam) percaya bahwa semua organisme, bahkan semua benda tak hidup
mengalami proses pembentukan melalui rantai/tangga yang panjang dantek
terputus, tak tersisipi. Rantai ini bermula dari mineral yang selanjutnya
berkembang menjadi bentuk yang semakin kompleks seperti tumbuhan, invertebrata,
ikan, burung, dsb.
Pada zaman sebelum abad 18 yaitu 3 abad sebelum Masehi, di Yunani
berkembang suatu paham bahwa organisme membentuk suatu tangga yaitu tangga
kehidupan atau tangga alam. Pada tangga kehidupan ini yang berada di dasar
adalah organisme yang sederhana, selanjutnya organisme yang berada di atasnya
adalah organisme yang lebih sempurna.Tetapi dalam hal ini tidak disinggung
hubungan antara organisme yang berada pada masing-masing anak tangga, sehingga
dapat dimengerti mengapa teori evolusi tidak lahir melalui paham ini.Dikemudian
hari beberapa pengikut evolusi menerima pendapat tersebut dengan melihat
pandangan yang semakin maju dan semakin kompleks.Linnaeus, meskipun percaya
adanya penciptaan tetapi tetap beranggapan bahwa tangga kehidupan tersebut ada.
Pada abad 17, tangga
kehidupan ini dibangkitkan kembali oleh Leibnitz yang mengemukakan adanya
“Hukum Kesinambungan” dalam hal ini antara spesies yang satu dengan spesies
lainnya ada spesies penyambungnya yang dikenal dengan spesies peralihan.Namun
Leibnitz tidak berani mengemukakan adanya spesies peralihan antara manusia dan
kera.Pemikiran tentang kesinambungan ini tidak juga melahirkan teori evolusi
karena pandangan dan penerapannya hanya sepotong-sepotong.
Cuvier (Perancis) yang mempunyai pendapat yang sama dengan Linnaeus tentang penciptaan, mengemukakan bahwa pada dasarnya evolusi itu tidak pernah terjadi. Cuvier berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini berasal dari proses penciptaan, spesies itu tetap dan tidak pernah berubah. Menurut Cuvier jika sekarang ini dijumpai beragam fosil pada lapisan tanah yang berbeda maka hal itu disebabkan terjadinya bencana alam.Bencana alam inilah yang melahirkan teori Catastrophisme.
Cuvier (Perancis) yang mempunyai pendapat yang sama dengan Linnaeus tentang penciptaan, mengemukakan bahwa pada dasarnya evolusi itu tidak pernah terjadi. Cuvier berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini berasal dari proses penciptaan, spesies itu tetap dan tidak pernah berubah. Menurut Cuvier jika sekarang ini dijumpai beragam fosil pada lapisan tanah yang berbeda maka hal itu disebabkan terjadinya bencana alam.Bencana alam inilah yang melahirkan teori Catastrophisme.
Melalui teori ini Cuvier mengemukakan bahwa di bumi ini terjadi beberapa
kali bencana alam yang besar.Akibat bencana ini dijumpai makhluk-makhluk yang
mati dan memfosil.Fosil yang berbeda yang terletak pada strata yang berbeda
adalah hasil dari suatu ciptaan baru.Lebih jauh tentang fosil yang terletak
pada setiap strata oleh William Smith dikemukakan bahwa tiap strata mempunyai
tipe fosil yang khas dan semakin ke bawah fosil yang dikandung semakin jauh
berbeda dengan makhluk yang ada sekarang ini.
Berbeda dengan yang dikemukakan Cuvier, Charles Lyell dalam bukunya
“Principle of Geology” mengemukakan bahwa terjadinya strata lapisan bumi yang
mengandung fosil tidak karena terjadinya bencana alam, tetapi berlangsung
sedikit demi sedikit seperti yang kita alami seperti sekarang ini., dengan
menggunakan teori Uniformitarianisme, yaitu teori yang menyatakan bahwa bentuk
dan struktur bumi disebabkan oleh kekuatan angin, air, dan panas yang bekerja
sekarang ini identik dengan yang bekerja dan mempengaruhi bentuk dan struktur
bumi di masa lalu.
b.
Teori Evolusi Masa
Darwin
Pada tahun 1859,
Charles Darwin menerbitkan bukunya dengan judul On the Origin of Species by
Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in The
Struggle for Life. Dalam bukunya ini ditekankan bahwa untuk dapat bertahan
hidup agar tidak punah perlu adanya perjuangan untuk hidup.
Teori evolusi Darwin merupakan teori yang didasar atas fakta-fakta hasil observasi baik dari lingkungan sekitarnya maupun dari peristiwa alam yang sesunggguhnya. Sebelumnya pada tahun 1858 Yoseph Hoken menerbitkan bukunya yang berjudul On the Tendency of Species to Form Variation, and on the Perpetuation of Varieties and Species by Natural Mean of Sleection. Buku ini diterbitkan sebagai upaya menggabungkan pendapat Charles Darwin dan Alfred Wallace.
Teori evolusi Darwin merupakan teori yang didasar atas fakta-fakta hasil observasi baik dari lingkungan sekitarnya maupun dari peristiwa alam yang sesunggguhnya. Sebelumnya pada tahun 1858 Yoseph Hoken menerbitkan bukunya yang berjudul On the Tendency of Species to Form Variation, and on the Perpetuation of Varieties and Species by Natural Mean of Sleection. Buku ini diterbitkan sebagai upaya menggabungkan pendapat Charles Darwin dan Alfred Wallace.
Gagasan Charles Darwin dan Alfred Wallace tentang evolusi ditandai dengan
adanya tiga observasi dan dua kesimpulan, yaitu:
Observasi, bila tidak ada tekanan dari lingkungannya, makhluk hidup
cenderung untuk memperbanyak diri seperti deret ukur. Dalam kondisi lapangan,
meskipun anggota populasi sering berubah dalam jangka waktu yang panjang,
besarnya populasi adalah tetap.Kesimpulannya tidak semua telur dan sperma dapat
menjadi zigot.Tidak semua zigot menjadi dewasa.Tidak semua makhluk dewasa dapat
bertahan dan mengadakan reproduksi.Untuk dapat bertahan perlu adanya
perjuangan.
Observasi, tidak semua anggota suatu spesies adalah sama, dengan
perkataan lain terjadi variasi dalam spesies. Kesimpulannya, dalam perjuangan
untuk hidup, varian yang baik akan menikmati hasil kompetisi terhadap varian
lain. Varian tersebut akan berkembang menjadi lebih banyak secara proporsional
dan akan mempunyai keturunan secara proporsional pula.
Charles Darwin telah
menyadari bahwa makhluk hidup tidak dapat lepas dari lingkungannya. Setelah
menyelesaikan pendidikannya di Cambridge, dan melakukan perjalanan mengelilingi
dunia dengan para ahli ilmu alam melalui ekspedisi H.M.S. Beagle (1832 – 1837)
dan juga pada ekspedisi Beagle yang berikutnya (1837 – 1838) ke kepulauan
Galapagos, Darwin mengalami masa-masa yang paling krusial dalam kehidupannya
berkenaan dengan kenyataan yang terlihat di alam. Dalam ekspedisi ini yang
dikerjakan oleh Darwin adalah mengoleksi burung-burung (burung Finch) yang
terdapat atau hidup di kepulauan Galapagos. Kenyataan yang dilihat Darwin,
bahwa terdapat variasi paruh burung Finch dari satu pulau dengan pulau yang
lain di kepulauan Galapagos. Awalnya, Darwin menduga bahwa semua burung Finch
yang terdapat di kepulauan Galapagos adalah satu spesies, tetapi kenyataannya
setiap pulau memiliki spesies berbeda.Ia menduga bahwa burung-burung finch
mengalami perubahan dari suatu nenek moyang yang sama. Dari kenyataan ini
Darwin menerima idea yang menyatakan bahwa spesies dapat berubah.
Tahap berikutnya, ia mengemukakan teori yang dapat menjelaskan mengapa
spesies berubah. Ia mencatat dalam buku catatannya bahwa ada waktu dimana
organisme berjuang untuk tetap hidup (survive). Teorinya tidak hanya
menjelaskan mengapa spesies berubah, tetapi juga mengapa mereka (burung finch)
terbentuk berjuang untuk hidup. Perjuangan untuk hidup (struggle for existence),
menghasilkan adaptasi ciri-ciri atau karakter terbaik yang dapat memunginkan
organisme tersebut tetap survive kemudian menurunkan ciri-ciri tersebut
ke-offspring dan secara otomatis meningkatkan frekuensi dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Sementara kenyataan lain menunjukkan bahwa lingkungan
tidak pernah tetap, tetapi selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu.
Gagasan evolusi
yang dicetuskan oleh Charles Darwin diilhami oleh beberapa pendahulunya, antara
lain (1) Erasmus, kakek Charles Darwin, (2) Thomas Robert Malthus, ahli
ekonomi, (3) Charles Lyell, yang ahli geologi, (4) Jean Baptista Lamarck.
Darwin telah menghabiskan waktu sekitar 20 tahun untuk mengumpulkan data
lapangan yang kemudian disusunnya dalam suatu deretan fakta yang sangat banyak.
Fakta tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa sesungguhnya evolusi terjadi di
lingkungan makhluk hidup, dan atas dasar fakta tersebut Darwin menrumuskan
wawasannya tentang seleksi alam, dengan mengemukakan 2 makna wawasan yaitu
adanya evolusi organik dan evolusi organik terjadi karena peristiwa seleksi
alam.
2.3. Asal-Usul
Sel
a. Asal-usul sel prokariot
Makhluk hidup pertama merupakan
hasil dari evolusi molekul anorganik. Agregat molekul yang dihasilkan secara
abiotik adalah protobion. Protobion terdiri dari beberapa tipe, yaitu
koaservat, mikrosfir, dan liposom. Protobion dianggap sebagai bahan dasar
pembentuk sel purba atau disebut progenot. Progenot merupakan cikal bakal semua
jenis sel yang ada sekarang. Progenot berkembang menjadi kelompok sel prokariot
purba seberti Archaebacteria. Archaebacteria merupakan bakteri yang beradaptasi
terhadap suhu sekitar 100°C, atau kadar garam yang tinggi, atau kadar asam yang
tinggi. Archaebacteria bersifat anaerob, memiliki dinding sel yang tersusun
dari berbagai jenis protein, mempunyai pigmen fotosintetik berupa
bakteriorodopsin, dan mampu menghasilkan ATP sendiri. Kelompok sel yang lain,
yaitu Eubacteria, merupakan bakteri yang hidup pada kondisi lingkungan yang
tidak sedrartis kondisi tempat hidup Archaebacteria. Eubacteria ada yang
bersifat aerob dan anaerob, mempunyai dinding sel yang tersusun dari
peptidoglikan, mempunyai pigmen fotosintetik berupa bakterioklorofil, dan mampu
menghasilkan ATP secara lebih efisien karena sistem transpor elektronnya lebih
berkembang.
Sel prokariotik merupakan sel yang memiliki struktur yang
lebih sederhana dibandingkan dengan sel eukariotik. Oleh karena itu para ahli
menduga bahwa makhlk hidup yang pertama kali muncul merupakan prokariot.
Sampai
dengan sekitar tahun 1970, diyakini bahwa sel eukariotik berevolusi daari sel
prokariotik melalui suatu proses evolusi perlahan-lahan, yaitu organel pada sel
prokariotik perlahanlahan berkembang menjadi lebih kompleks. Konsep ini berubah
setelah penemuan Lynn Margulis dari Universitas Boston. Margulis membuktikan
teori yang sebelumnya diabaikan, yaitu organel-organel tertentu pada sel
eukariotik, terutama mitokondria dan kloroplas berasal dari sel prokariotik
yang berukuran kecil. Sel prokariotik tersebut menempati sitoplasma sel inang
yang berukuran besar sehinga terbentuk sel eukariotik. Hipotesis ini disebut
sebagai teori endosimbiotik. Teori endosimbiotik bermakna bahwa sel tunggal
yang kompleks berevolusi dari dua atau lebih sel yang lebih sederhana, yang hidup
simbiotik dengan sel inangnya.
Nenek
moyang sel eukariotik yang pertama diduga merupakan bakteri heterotrofik
anaerob. Disebut sebagai bakteri anaerob karena enegi bakteri ini berasal dari
perombakan makanan tanpa menggunakan oksigen. Disebut sebagai bakteri
heterotrof karena bakteri ini tdak dapat mensintesis makanannya (seperti CO2
dan air), memerlukan senyawa kompleks dari lingkungannya.
Sesuai dengan teori endosimbiotik,
ada organisme prokariot yang relatif besar, bersifat anaerob dan heterotrof,
yang menelan organisme prokariot yang berukuran lebih kecil dan bersifat aerob.
Prokariot yang berukuran kecil itu diduga merupakan bakteri fotosintetik ungu.
Namun karena tidak dapat dicerna oleh sitoplasma prokariotik yang lebih besar,
sel prokariot yang lebih kecil tersebut tinggal menetap dan membentuk
endosimbion di dalam tubuh sel inangna. Saat sel inang bereproduksi,
endosimbion juga bereproduksi. Setelah beberapa generasi, endosimbion
kehilangan sifat-sifat yang tidak dibutuhkannya lagi dan berevolusi menjadi
organel mitokondria yang kita kenal sekarang ini.
Diduga
juga bawa bergabungnya endosimbion lain, terutama Cyanobacteria, menyebabkan
organisme eukariot heterotrof yang ada pada masa awal berubah menjadi organisme
heterotrof fotosintetik sekarang, yaitu alga dan tumbuhan hijau. Penggabungan
kloroplas merupakan tahap terakir dalam proses endosimbiotik karena semua
mikroorganisme eukariot mempunyai mitokondria, namun hanya alga dan tanaman
yang mempunyai kloroplas.
2.4. Evolusi
Tumbuhan dan Hewan
a.
Evolusi
pada tumbuhan.
Evolusi tidak hanya terjadi pada
hewan, tetapi juga pada tumbuhan. Evolusi tumbuhan ditandai dengan adanya
perubahan yang perlahan sebagai bentuk adaptasi diri terhadap lingkungan.
Evolusi tumbuhan yang utama adalah adanya perubahan tumbuhan yang berasal dari
kelompok alga hijau atau dinamakan klorofita menjadi tumbuhan berbiji atau tumbuhan berpembuluh. Itulah
yang menyebabkan klorofita ini dikatakan sebagai nenek moyang dari semua jenis
tumbuhan yang hidup di darat.
Tumbuhan
berpembuluh adalah hasil evolusi beberapa jenis tumbuhan klorofita. Evolusi
tumbuhan pada tumbuhan berkambium ini terjadi sebagai bentuk pertahanan yang
dilakukan tumbuhan terhadap kekeringan yang terjadi. Kutikula atau lilin pada
tumbuhan yang semula digunakan untuk menghindari kekeringan, berevolusi menjadi
jaringan jalur pipa yang sangat kecil sekali atau dikenal dengan istilah
pembuluh.
Evolusi tumbuhan berpembuluh ini
terjadi sekitar 400 juta tahun silam. Dengan evolusi tumbuhan ini, mereka
menjadi tumbuhan yang memiliki kemampuan untuk melakukan pemindahan air ke
bagian-bagian tumbuhan yang membutuhkan. Salah satu tumbuhan hasil evolusi ini adalah
Cooksonia yang merupakan tumbuhan
pertama hasil evolusi tumbuhan menjadi tumbuhan berpembuluh.Tumbuhan ini
memiliki cirri batang yang tegak lurus dan memiliki cabang. Tingginya dapat
mencapai 5 cm. saat itu, tumbuhan ini merupakan tumbuhan raksasa yang pernah
ada. Dengan evolusi ini, tumbuhan pun tidak hanya dapat hidup pada daerah yang
lembap, tetapi juga pada tempat yang kering. Caranya yaitu dengan menelusuri
kelembapan yang terdapat jauh di bawah permukaan tanah melalui akar yang
dimilikinya.
Tumbuhan berbiji, dari golongan coksonia
serta kerabatnya melakukan reproduksi dengan cara melepaskan spora. Ini terjadi
cukup lama. Bahkan, sampai dengan saat ini. Namun, tidak begitu halnya pada
tumbuhan yang berbiji, biji merupakan struktur reproduktif yang didalamnya
terdapat embrio dan bahan makanan cadangan.
Keistimewaan
tumbuhan berbiji ini adalah kekuatannya. Biji dapat bertahan dalam kondisi yang
sulit sekalipun dan dalam rentang waktu yang lama. Keragaman tumbuhan berbiji
adalah hasil dari evolusi tumbuhan kelompok conifer. Evolusi tumbuhan berbiji
ini dimulai sejak sekitar 125 juta tahun silam. Ini ditandai dengan munculnya
tumbuhan yang berbunga.Evolusi terjadi Karena adanya hubungan yang rumit antara
tumbuhan tersebut dengan hewan. Hubungan ini membantu penyerbukan serbuk sari
dan biji yang mereka miliki. Pada akhirnya, tumbuhan ini berevolusi menjadi
menjadi bentuk yang dominan dari kehidupan tumbuhan yang ada di dunia.
b. Evolusi
Pada Hewan
Evolusi kuda menjelaskan
nenek moyang filogeni
dari kuda modern,
yang pada mulanya berasal dari Hyracotherium yang seukuran
anjing dan tinggal di hutan, yang berevolusi seiring skala waktu geologi. Palezoolog
telah dapat mengumpulkan gambaran lengkap mengenai garis
keturunan evolusi kuda modern, lebih lengkap daripada hewan-hewan lainnya.
Kuda termasuk ke dalam ordo yang dikenal sebagai Perissodactyla, atau hewan berkuku ganjil, yang semua anggotanya
memiliki kaki berkuku serta jumlah jari yang ganjil
pada tiap kakinya, selain juga bibir atas yang mudah bergerak
dan struktur gigi
yang serupa. Ini artinya kuda memiliki leluhur yang sama dengan tapir dan badak. Perissodactyla
pada awalnya mulai muncul pada masa Paleocene
akhir, kurang dari 10 juta tahun setelah peristiwa kepunahan Kapur-Tersier.
Kelompok hewan ini nampak pada awalnya hanya hidup di hutan hujan,
namun untuk tapir dan, sampai batas tertentu, badak, tetap ada yang hanya hidup
di hutan
tropis, sementara kuda modern beradaptasi untuk hidup di tanah yang lebih
kering di kodisi iklim yang lebih keras di stepa. Spesies Equus lainnya beradatasi pada
beragam kondisi menengah.
Moyang awal kuda
modern berjalan dengan jari kaki yang melebar keluar, yang memudahkan mereka
untuk berjalan di atas hamparan tanah yang lembut dan lembap di hutan
purba.Ketika spesies rumput mulai muncul dan berkembang, para equid mulai berganti
makanan dari dedaunan menjadi rerumputan, yang berujung pada gigi yang lebih
kuat dan lebih awet. Pada saat yang sama, seiring mulai munculnya stepas, para
pendahulu kuda pun perlu memiliki kecepatan yang yang lebih tinggi untuk
melarikan diri dari pemangsa. Ini diperoleh melalui pemanjangan anggota gerak
dan terangkatnya beberapa jari dari tanah dalam suatu cara yang mengakibatkan
berat tubuh secara perlahan dipindahkan kepada jari terkuat, yaitu jari ketiga.
2.5. Faktor –
Faktor yang Mempengaruhi Evolusi
a. Faktor
perubahan
Mutasi gen maupun mutasi kromosom
menghasilkan bahan mentah untuk evolusi. Tetapi Darwin sendiri sebenarnya tidak
mengenal mutasi ini, sementara mutasi merupakan peristiwa yang sangat penting
yang mendukung keabsahan teori Darwin
Rekombinasi perubahan yang dikenal
Darwin. Rekombinasi dari hasil-hasil mutasi memperlengkap bahan mentah untuk
evolusi.
b. Faktor
pengarah :
Dalam setiap species terdapat banyak
penyimpangan yang menurun, karenanya dalam satu species tidak ada dua individu
yang tepat sama dalam susunan genetiknya (pada saudara kembar misalnya, susunan
genetiknya tetap tidak sama). Pada umumnya proses reproduksi menghasilkan
jumlah individu dalam tiap generasi lebih banyak daripada jumlah individu pada
generasi sebelumnya.

Ada persaingan antara individu-individu dalam species untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya dari lingkungannya. Persaingan intra species ini terjadi antara individu-individu yang berbeda sifat genetiknya. Individu yang mempunyai sifat paling sesuai dengan lingkungannya akan memiliki viabilitas yang tinggi. Di samping viabilitas juga fertilitas yang tinggi merupakan faktor yang penting dalam seleksi alam.Mekanisme evolusi terjadi karena adanya variasi genetik dan seleksi alam.
Variasi genetik muncul akibat : mutasi
dan rekombinasi gen-gen dalam keturunan baru.
c. Frekuensi
Gen
Pada proses evolusi terjadi perubahan
frekuensi gen. Bila perbandingan antara genotip-genotip dalam satu populasi tidak berubah dari
satu generasi ke generasi, maka frekuensi gen dalam populasi tersebut dalam
keadaan seimbang. Frekuensi gen seimbang bila :
1. Tidak ada mutasi atau
mutasi berjalan seimbang (jika gen A bermutasi menjadi gen a, maka harus ada
gen a yang menjadi gen A dalam jumlah yang sama).
2. Tidak ada seleksi
3. Tidak ada migrasi
4. Perkawinan acak
5. Populasi besar
2. Tidak ada seleksi
3. Tidak ada migrasi
4. Perkawinan acak
5. Populasi besar
Hukum
Hardy-Weinberg dirumuskan sebagai berikut


Sebagai
contoh alel gen A dan a, maka menurut persamaan diatas :

2pq = Frekuensi Individu Heterozigot Aa, dan


a.
Hanyutan genetik (genetic drift),
b.
Arus gen (gene flow),
c.
Mutasi,
d.
Perkawinan tidak acak, dan
e.
Seleksi alam. Masing-masing penyebab perubahan
kesetimbangan hukum Hardy-Weinberg atau perubahan frekuensi genetik populasi
merupakan kondisi kebalikan yang dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan
Hardy-weinberg.
Hukum ini menyatakan bahwa dalam
suatu kondisi tertentu yang stabil, frekuensi gen dan frekuensi genotif akan
tetap konstan dari satu generasi ke generasi dalam suatu populasi yang berbiak
seksual, bila syarat berikut dipenuhi:
a. Genotif yang ada memiliki viabilitas
(kemampuan hidup) dan fertilitas (kesuburan) yang sama
b. Perkawinan yang terjadi berlangsung
secara acak, artinya pemilihan alel tidak dilakukan secara sengaja.
c. Tidak ada mutasi gen atau jika
terjadi mutasi harus setimbang ( A
a) setimbang dengan ( a
A). Mutasi yang tidak setimbang akan
mengubah frekuensi gen dalam populasi.


d. Tidak terjadi migrasi
e. Tidak terjadi seleksi alam. Jika
terjadi seleksi alam maka individu denagn fenotipe tertentu kan lebih bertahan
hidup daripada individu dengan fenotip lain.
Terbentuknya
spesies baru dapat terjadi karena :
1. Isolasi waktu
1. Isolasi waktu

1.
Isolasi geografis
Burung
Fringilidae yang mungkin terbawa badai dari pantai Equador ke kepulauan
Galapagos. Karena pulas-pulau itu cukup jauh jaraknya maka perkawinan populasi
satu pulau dengan pulau lainnya sangat jarang terjadi. Akibat penumpukan mutasi
yang berbeda selama ratusan tahun menyebabkan kumpulan gen yang jauh berbeda
pada tiap-tiap pulaunya. Dengan demikian populasi burung di tiap-tiap pulau di
kepulauan Galapagos menjadi spesies yang terpisah.
2.
Domestikasi
Hewan ternak yang dijinakkan dari
hewan liar dan tanaman budi daya dari tumbuhan liar adalah contoh domestikasi.
Domestikasi memindahkan makhluk-makhluk tersebut dari habitat aslinya ke dalam
lingkungan yang diciptakan manusia. Hal ini mengakibatkan muncul jenis hewan
dan tumbuhan yang memiliki sifat menyimpang dari sifat aslinya.
4. Mutasi kromosom adalah peristiwa
terjadinya species baru secara cepat.
5. Isolasi Reproduksi
Tanda dua populasi berbeda species
bila mereka tidak dapat berhybridisasi disebut juga bila mereka mengalami
Isolasi reproduksi.
Isolasi reproduksi terjadi karena :
Isolasi reproduksi terjadi karena :

2. Isolasi musim : akibat berbeda waktu pematangan gamet
3. Isolasi tingkah laku : akibat berbeda tingkah laku dalam hal perkawinan.
4. Isolasi mekanik : karena bentuk morfologi alam kelamin yang berbeda.
5. Isolasi gamet : karena gamet jantan tidak memiliki viabilitas dalam alat reproduksi betina.
6. Terbentuknya basta mandul
7. Terbentuk bastar mati bujang
2.6. Petunjuk Evolusi
1. Anatomi
Perbandingan
Dari studi
anatomi perbandingan dapat diketabui bahwa alat-alat fungsional pada berbagai binatang dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a.
Homologi
Alat tubuh
yang mempunyai bentuk yang berbeda dan fungsinya berbeda namun kalau
diteliti mempunyai bentuk dasar sama.
b.
Analogi
Alat-alat
tubuh yang mempunyai bentuk dasar yang berbeda namun karena perkembangan
evolusi yang konvergen alat-alat tersebut mempunyai fungsi yang sama.
2.
Embriolog Perbandingan

Ernest
Haeckel, mengatakan tentang adanya peristiwa ulangan ontogeni yang serupa
dengan peristiwa filogeninya, dia sebut teori rekapitulasi.
Contoh:
adanya rekapitulasi adalah perkembangan terjadinya jantung pada mamalia yang
dimulai dengan perkembangan yang menyerupai ikan, selanjutnya menyerupai embrio
amfibi, selanjutnya menyerupai perkembangan embrio reptil.
3. Perbandingan
Fisiologi
Telah
diketahui ada kemiripan dalam faal antara pelbagai makhluk mulai dari
mikroorganisme sampai manusia, misalnya :
1) Kemiripan dalam kegiatan pernafasan.
2)
Pembentukan ATP dan penggunaannya dalam pelbagai proses kehidupan adalah
serupa pada hampir semua organisme.
4.
Petunjuk-petunjuk Secara Biokimia
Digunakan
uji presipitin yang pada dasarnya adanya reaksi antara antigen-antibodi.
Banyaknya endapan yang terjadi sebagai akibat reaksi tersebut digunakan untuk
menentukan jauh-dekatnya hubungan antara organisme yang satu dengan yang
lainnya.
5.
Petunjuk-petunjuk Peristiwa
Domestikasi

Contoh:
penyilangan burung-burung merpati, sehingga dijumpai adanya 150 variasi burung,
yang di antaranya begitu berbeda hingga dapat dianggap sebagai spesies berbeda.
6.
Petunjuk-petunjuk dari alat tubuh
yang tersisa
Alat-alat
yang tersisa dianggap sebagai bukti adanya proses evolusi, alat-alat ini sudah
tidak berguna namun ternyata masih dijumpai.
Contoh : Pada manusia :
• Selaput mata
pada sudut mata sebelah dalam
• Tulang ekor
• Gigi taring
yang runcing
7.
Petunjuk-petunjuk Paleontologi
Telah diketabui bahwa fosil dapat
digunakan sebagai petunjuk adanya evolusi.
Contoh :
Urutan fosil kuda: dari Eohippus (kuda zaman Eosin) Þ Mesohippus Þ Merychippus
Þ Pliohippus Þ Equas (kuda zaman sekarang).
2.7.
Pandangan
baru tentang evolusi

Sejak dikemukakan pertama kali oleh
Charles Darwin, teori evolusi telah mendapat tentangan dari berbagai pihak.
Pihak yang tidak setuju dengan pendapat Darwin mengemukakan bahwa makhluk hidup
tercipta dengan pendapat Darwinmengemukakan bahwa makhluk hidup tercipta dengan
bentuk yang ada seperti saat ini. Ini disebut Teori Penciptaandan berkembang menjadi teori-teori yang pada
intinya mendukung teori penciptaan (creationism).
Salah satu teori penciptaan adalah teori Intelegient
Design. Menurut teori ini, semua makhluk hidup dan alam semesta diciptakan
oleh Tuhan secara terencsns dan bukannya dengan ketidaksengajaan. Dewasa ini,
terdapat kecenderungan berkembangnya teori creationism
dengan adanya fakta dari ha-hal berikut ini
1. Penemuan
Model DNA oleh Waston dan Crick
Penemuan model gen
(1953) yang terkenal dengan nama double
helix (tangga tali berpilin ganda) oleh Waston dan Crick, membawa
mereka mendapatkan
hadiah nobel pada tahun 1962. Molekul DNA yang terdapat dalam sel hidup,
mempunyai kerumitan dan keteraturan. DNA mengandung basa-basa yang berurutan
yang terdiri dari adenine, timin, guanine, dan sitosin. Keteraturan dan
kerumitanmolekul DNA dalam menentukan urutan basa tidak akan muncul secara
kebetulan. Kalupun ada kerusakan atau perubahan yang berupa mutasi, biasanya
individu yang mengalami mutasi menjadi cact ataupun steril, sehingga tidak
mungkin menurunkan keturunan. Denagn kata lain tidak mungkin suatu sel berubah
menjadi makhluk hidup yang lebih kompleks dan seleksi alam bukanlah pendorong
terjadinya evolusi.
2. Hukum
Penurunan Sifat Menurut Mendel

3. Paleontologi
Berdasarkan
studi tentang fosil yang ditemukan, tidak ada organisme masa kini yang berbeda
dengan fosil nenek moyangnya. Contohnya fosil ikan hiu yang berumur 100 juta
tahun yang lalu, sama dengan ikan hiu sekarang. Dengan demikian, ikan hiu tidak
mengalami evolusi setelah diciptakan.
Penemuan fosil dari zaman kambria menunjukan bahwa fosil selalu muncul
secara tiba-tiba dengan bagian tubuh lengkap, dan tidak dijumpai bentuk
transisi. Dari studi paleontology, ada ledakan suatu makhluk hidup dan
kepunahan makhluk hidup yang lain.
Dari
penemuan fosil Archaeopteryx, burung
reptile dimasa jura 130juta taun yang lalu ada anggapan bahwa fosil tersebut
merupakan evolusi dari reptile keburung. Ciri Archaeopteryx ialah paruhnya bergigi dan memiliki cakar sayap yang
merupakan karakter reptil. Sedangkan
sayap burung aerofildan tulang dada
(sternum) yang dimilikinnya merupakan karaktr dari burung. Walaupun mempunyai
karkter reptile dan burung, tidak mungkin reptile berevolusi menjadi burung,
mengingat suhu tubuh reptile dan burung berbeda, dan juga cara geraknya
berbeda. Ini berarti fosil Archaeopteryx
bukan bentuk transisi.
2.8.
Teori
Asal Usul Kehidupan

1.
Teori
nebula
Teori ini menyatakan bahwa beberapa miliar tahun
yang lalu, bintang-bintang diangkasa yang tidak stabil meledak. Debu dan gas
hasil ledakan ini membentuk kabut. Kemudian, kabut asal memadat lalu meledak,
menghasilkan bintang-bintang baru dan planet-planet, termasuk
2.
Teori big-bang
Teori ini menyatakan bahwa materi di angkasa menyatu
dan memadat membentuk benda kecil yang kemudian meledak. Ledakan ini menghasilkan bintang-bintang dan
planet, termasuk bumi.
Dalam biologi, dikenal tiga teori
asal-usul kehidupan, yaitu teori abiogenesis, biogenesis, dan evolusi kimia.
1.
Teori
Abiogenesis (Generatio spontanea)
Aristoteles (384-322 sm), seorang
ahli filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani kuno lebih dari 200 tahun yang lalu,
mengemukakan konsep bahwa kehidupan berasal dari benda mati. Teori ini dikenal
dengan nama generatio spontaneaatau
teori abiogenesis. dari hasil penelitian
Aristoteles tentang hewan-hewan yang hidup di air, ternyata ikan-ikan tertentu
melakukan perkawinan, kemudian bertelur. Dari telur-telur tersebut lahir
ikan-ikan yang sama dengan induknya. Akan tetapi, ia juga percaya bahwa
ikan-ikan tertentu terbentuk dari lumpur. Contoh orang yang percaya teori
abiogenesis adalah Needham, seorang
ilmuwan inggris. Needham (1700) melakukan penelitian dengan merebus kaldu dalam
wadah selama beberapa menit lalu memasukkannya dalam botol dan di tutup dengan
gabus. Setelah beberapa hari ternyata tumbuh bakteri dalam kaldu tersebut. Oleh
karena itu, Needham menyatakan bahwa berasal dari kaldu. Namun, teori Needham
ini dipatahkan oleh L.Spallanzani.

2.
Teori
biogenensis
Eksperimen terkenal yang menentang teori abiogenesis dilakukan
antara lain oleo Redih Francesco Redi (Italia), Lazzaro Spalanzani(Italia), dan
Louis Pasteur (Perancis).
a.
Percobaan
Francesco Redi
Francesco
Redi (1626-1698),
seorang fisikawan Italia, adalah orang-orang pertama yang melakukan penelitian
untuk membantah teori generatio spontanea. Dia melakukan serangkaian penelitian
menggunakan daging segar. Redi memperhatikan bahwa ulat akan menjadi lalat dan
lalat selalu terdapat tidak jauh dari sisa-sisa daging. Pada penelitiannya,
Redi menggunakan keratan daging segar yang diletakkan dalam 3 wadah (tabung).
Dari percobaan tersebut,
Redi membuktikan bahwa balatung tidak terbentuk dari daging yang membusuk,
melainkan berasal dari telur-telur lalat yang ditinggalkan ketika lalat-lalat
mengerumuni daging membusuk dan permukaan kain kasa.
Percobaan Redi membuktikan
makhluk hidup tidak begitu saja terbentuk dari benda-benda mati, tetapi semua
makhluk hidup terbentuk oleh makhluk hidup juga. Hipotesis yang menyatakan
makhluk hidup yang berasal dari sesuatu yang hidup disebut teori biogenesis.
b.
Percobaan
Spalanzani
Pada tahun 1765, seorang
biologiwan Italiayang bernama Lazzaro
Spalanzani, melakukan percobaan yang berlawanan dengan teori Needham,
Spalanzani menyatakan bahwa Needham tidak merebus tabung cukup lama sampai
semua organisme terbunuh dan Needham juga tidak menutup leher tabung dengan
rapat sekali sehingga masih ada organisme yang masuk dan tumbuh.

c.
Percobaan
Louis Pasteur
Seorang biologiwan bernama Louis Pasteur pada tahun 1864 melakukan
percobaan menggunakan tabung berleher angsa. Pasteur sendiri meyakini bahwa
sebuah sebuah sel pasti berasal dari sel lainnya. Dalam percobaan menggunakan
tabung berleher angsa, Pasteur merebus kaldu hingga mendidih, kemudian
mendiamkannya. Pada prinsipnya, udara mampu masuk kedalam tabung, namun
partikel debu akan menempel pada lengkungan leher tabung tabung. Setelah
beberapa lama, ternyata tidak ada bakteri yang tumbuh. Namun, setelah Pasteur
memiringkan tabung leher angsa tersebut, air kaldu di dalam tabung kemudian ditumbuhi
oleh mikroba. Hal ini membuktikan bahwa
kehidupan juga berasal dari kehidupan sebelumnya.
Setelah ditumbangkannya teori
abiogenesis atau generatio spontanea oleh Louis Pasteur, maka berkembanglah
teori biogenesis dengan pernyataannya yang terkenal “omne vivo ex ovo, omne ovum ex vivo”, yang artinya, kehidupan
berasal dari “kehidupan sebelumnya”.
3.
Teori
Evolusi Kimia (Teori Biologi Modern)
Para ahli geologi beranggapan
bahwa pada mulanya keadaan suhu di bumi ini sangat tinggi. Akan tetapi, pada
suatu saat bumi mengalami pendinginan. Pada proses pemanasan dan pendinginan
tersebut, banyak terbentuk bahan-bahan kimia. Bahan-bahan yang berat akan masuk
ke dalam permukaan bumi karena adanya gaya gravitasi bumi, sedangkan
bahan-bahan yang ringan akan berada di bagian luar bumi yang disebut atmosfer.
Susunan isi atmosfer pada masa lalu itu amat berbeda dengan susunan isi atmosfer sekarang. Pada atmosfer purba
tidak terdapat unsur oksigen, karena pada suhu yang amat tinggi oksigen mudah bersenyawa dengan
unsur-unsur lain.
Teori evolusi kimia dikemukakan oleh beberapa ahli
berikut ini.
a. A.L.
Oparin (Rusia)

Monomer-monomer lalu bergabung
membentuk polimer, misalnya protein dan
nukleat. Kemudian agregrasi ini
membentuk molekul intesan yang disebut protabion.
Protabion ini memiliki ciri kimia yang berbeda dengan lingkungannya.
Kondisi atmosfer masa kini tidak
lagi memungkinkan untuk sintesis molekul organik secara spontan, karena oksigen
atmosfer akan memecahkan ikatan kimia dan mengektrasikan elektron.
Polimerisasi tau penggabungan
monomer ini dapat dibuktikan oleh Sydney
For. Beliau melakukan percobaan dengan memanaskan larutan kental monomer
organik yang mengandung asam amino paa suhu leburnya. Saat air menguap
terbentuk lapisan monomer yang berpolimerisasi. Polimer ini oleh Sydney for
disebut proteirloid. Selanjutnya
dalam penelitiannya di laboratorium, proteirloid di campur dengan air dingin
dsn sksn membentuk gabungan proteirloid yang menyusun tetesan kecil yang
disebut mikrosfer. Mikrosfer
diselubungi oleh membran selektif permeabel.
b. Harold
Urey
Harold
urey pada
tahun 1893 mengemukakan teori yang didasari oleh pemikiran bahwa bahan organik
merupakan bahan dasar organisme hidup, yang pada mulanya dibentuk sebagai
reasksi gas yang ada di alam dengan bantuan energi.

Fase
1. Tersedianya molekul metana, amonia, hidrogen, dan uap air yang sangat banyak di atmosfer.
Fase 2. Energi yang timbul dari aliran listrik,
halilintar, dan radiasi sinar kosmis merupakan energi pengikat dalam reaksi
molekul metana, amonia, hidrogen, dan uap air.
Fase 3. Terbentuknya zat hidup yang paling
sederhana.
Fase 4. Zat hidup yang terbentuk berkembang dalam
waktu jutaan tahun menjadi sejenis organisme yang lebih kompleks.
c. Stanley
Millerr
Pada tahun 1953, Stanley Miller berhasil membuktikan
teori gurunya, Urey dalam laboratorium. Dengan sebuah alat.
Alat tersebut disimpan pada
sebuah kondisi yang diperkirakan sama dengan kondisi pada waktu sebelum ada
kehidupan. Kedalam alat tersebut dimasukkan bermacam-macam gas, seperti uap air
yang dipanaskan, hidrogen, metana, dan amonia.
Selanjutnya pada alat tersebut
diberikan aliran listrik 75.000 volt (sebagai pengganti kilatan halilintar yang
selalu terjadi di alam pada waktu itu). Setelah seminggu, ternyata Miller
mendapatkan zat organik yang berupa asam amino. Asam amino merupakan komponen
kehidupan. Selain asam amino diperoleh juga asam hidroksi, HCN, dan urea.
Pemikiran selanjutnya adalah bagaimana terbentuknya protein dari asam amino
ini.
d. Melvin
Calvin
Melven
calvindari
Universitas California menunjukkan bahwa radiasi sinar dapat mengubah metana,
amonia, hidrogen, dan air menjadi molekul-molekul gula dan asam amino, dan juga
membentuk purin dan pirimidin, yang merupakan zat DNA, RNA, ATP, dan ADP.
Dari volusi kimia dapat kita
simpulkan bahwa senyawa-senyawa anorganik yang ada di atmosfer mengalami
perubahan sedikit demi sedikit membentuk senyawa oganik. Senyawa oganik itulah
yang merupakan komponen dasar makhluk hidup.
![]() |
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
·
Evolusi (evolverre =
membuka gulungan) adalah proses perubahan struktur makhluk hidup dari bentuk
yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks dan berlangsung dari generasi
ke generasi dalam jangka waktu yang sangat lama.
·
Berbagai macam teori-teori evolusi muncul baik sebelum Darwin maupun pada masa Darwin
·
Sel-sel pun mengalami evolusi baik sel prokariotik maupun sel eukariotik. Tumbuhan dan hewan juga mengalami evolusi, dan terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi seperti mutasi gen, rekombinasi
gen, seleksi alam,
dan lain lain.
·
Petunjuk-petunjuk evolusi dapat dilihat anatomi perbandingan tubuh dan juga embriolog perbandingan. Petujuk –petunjuk itu dapat dilihat secara biokimia ataupun dalam bentuk fosil.
·
Pandangan baru tentang evolusi seperti penemuan model DNA oleh Waston dan Crick, penurunan sifat menurut Mendel dan teori Paleontologi.
·
Teori Asal-usul kehidupan terdapat 2 teori yang
terkenal yaitu teori nebula dan big
bang. Dalam biologi terkenal teori asal-usul kehidupan yaitu teori abiogenesis,
biogenesis dan evolusi kimia
3.2. Saran

DAFTAR
PUSTAKA
http://teksbiologi.blogspot.com
http://zaifbio.wordpress.com
Maryati
Sri, Pratiwi., dkk. Biologi untuk SMA
Kelas XII. Jakarta: Erlangga., 2007.
Pujiyanto, Sri. Menjelajah Dunia
Biologi 3 untuk Kelas XII SMA dan MA. Solo: Planitum, 2010.